MAU VERVAL NUPTK dan NRG!!!!
Silahkan Klik MULAI
Yang mau UPLOAD backup emis silahkan klik MULAI
MAHALNYA SEBUAH KEJUJURAN
Pendidikan di sekolah sejatinya adalah tempat disemaikannya nilai-nilai
kebaikan, yang memberi manfaat untuk perbaikan moral dan etika siswa.
Tapi mengapa kini kasus ketidakjujuran akademis mulai dari sekolah dasar
hingga perguruan tinggi menjadi makin marak? Meski dengan kadar
pelanggaran yang berbeda, apakah ada sesuatu yang keliru dengan pola
pendidikan untuk anak-anak bangsa ini?
Masih ingatkah kita dengan seorang ibu dari Surabaya yang anaknya
dipaksa oleh oknum guru di sekolahnya untuk memberi bantuan contekan
pada teman-temanya saat ujian nasional? Meski ibu Siami yang mengungkap
kecurangan itu mengambil resiko keluarganya dibenci masyarakat dan
terusir dari kampungnya, namun kini Alifa' Ahmad Maulana, yang akrab
dipanggil Alif itu menikmati massa SMP-nya di sebuah sekolah swasta di
Kota Baru, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, dengan nyaman.
Narasumber Kick Andy yang hadir kali ini pun adalah sosok-sosok yang
“membayar mahal” atas kejujuran yang telah mereka lakukan. Salah
satunya, Nur Hidayatusholihah. Nur yang akrab dipanggil Aya ini adalah
murid berprestasi. Namun, juara kelas ini harus tiga kali mengulang
ujian nasional untuk bisa lulus SMA. Tujuannya hanya satu: ia tak mau
mendapatkan ijasah kelulusan dengan cara curang, tetapi lulus dengan
kemampuannya sendiri. Walau sempat dicemooh oleh teman-teman dan
tetangga di lingkungan rumahnya, namun Nur bergeming. Baginya, kejujuran
dengan mendapatkan ijasah ‘halal’ adalah modal utama untuk menjalani
masa depannya kelak.
Praktek beberapa oknum pendidik dalam menjual lembar jawaban soal ujian nasional sudah bukan menjadi hal yang baru di tengah masyarakat. Meski melanggar, namun banyak pihak sekolah yang rela membantu siswa-siswi-nya agar bisa lulus ujian. Seperti kasus yang terjadi di Medan Sumatra Utara pada tahun 2007 lalu. Pihak sekolah terbukti memberikan kunci jawaban pada siswa saat ujian nasional berlangsung. Kecurangan itu terungkap berkat kesaksian seorang guru, Daud Hutabarat. Bagi Daud Hutabarat menjadi guru bukanlah menjalani pekerjaan, tetapi merupakan panggilan hati. Menyaksikan sendiri kecurangan yang dilakukan oleh pihak sekolah dan murid-muridnya saat ujian kelulusan membuat hatinya tercabik-cabik. Tercatat ia sudah 4 kali keluar masuk berbagai sekolah sebagai tenaga pengajar. Alasan ia keluar pun semua karena adanya pembiaran praktek kecurangan oleh pihak sekolah saat berlangsungnya ujian. Ia merasa seakan sudah gagal menjadi seorang pendidik. Walau harus mempertaruhkan karirnya sebagai guru, Daud bersama beberapa guru membentuk Komunitas Air Mata Guru. Tujuannya adalah berupaya untuk menolak segala jenis kecurangan saat ujian kelulusan dengan mengadukan kecurangan yang terjadi kepada dinas pendidikan dan lembaga terkait.
Winda dan Aswari selalu mengajarkan pentingnya arti kejujuran kepada
anak mereka, Muhammad Abrary Pulungan. “Kami diminta membuat kesepakatan
tertulis untuk kasih jawaban saat ujian kepada teman-teman. Dan
dilarang untuk memberitahukan kepada siapapun, orangtua, keluarga,
teman, apapun yang terjadi saat un (Ujian Nasional)- sampai kami dewasa.
Maksudnya adalah untuk tutup mulut. Kalau saya membocorkan rahasia ini,
saya akan mendapatkan hukuman berat,” kata Abrary. Namun, kejujuran itu
membuat Abrary dibenci dan dikucilkan oleh teman-teman dan guru-guru di
sekolahnya. Pasalnya, Abrary mengadukan bahwa dirinya dipaksa untuk
membuat komitmen contek massal bersama dengan teman-temannya saat ujian
kelulusan SD. Winda pun mengadukan kasus tersebut ke Dinas Pendidikan,
serta beberapa instansi hukum dan anak. Namun, hingga kini hasilnya
nihil. Kisah yang dialami Muhammad Abrary Pulungan, dan perjuangan
ibunya didokumentasikan ke dalam sebuah film dokumenter berjudul “Temani
Aku Bunda” yang dibuat oleh Tim Produksi Yayasan Kampung Halaman.
Pendidikan bangsa yang menjadi tanggung jawab nasional berbagai pihak
kini menjadi pertaruhan eksistesi sekolah, obyek target
institusi-intitusi pendidikan yang menghargai hasil semata dan mulai
mengabaikan proses. Bapak Arief Rahman, praktisi dan pemerhati
pendidikan akan memberikan pemaparan yang gamblang mengenai hal
tersebut. (http://www.kickandy.com/theshow/1/1/2491/read/mahalnya-sebuah-kejujuran.html)
Buku PAI dan Bahasa Arab Kurikulum 2013 untuk Guru MI
untuk unduh silahkan klik pilihan di bawah ini.
Kelas I
Buku Akidah Ahlak Guru MI Kelas I
Buku Al Qur`an dan Hadist Guru MI Kelas I
Buku Bahasa Arab Guru MI Kelas I
Buku Fiqih Guru MI Kelas I
Kelas IV
Buku Akidah Ahlak Guru MI Kelas IV
Buku Al Qur`an dan Hadist Guru MI Kelas IV
Buku Bahasa Arab Guru MI Kelas IV
Buku Fiqih Guru MI Kelas IV
Buku SKI Guru MI Kelas IV
Kelas I
Buku Akidah Ahlak Guru MI Kelas I
Buku Al Qur`an dan Hadist Guru MI Kelas I
Buku Bahasa Arab Guru MI Kelas I
Buku Fiqih Guru MI Kelas I
Kelas IV
Buku Akidah Ahlak Guru MI Kelas IV
Buku Al Qur`an dan Hadist Guru MI Kelas IV
Buku Bahasa Arab Guru MI Kelas IV
Buku Fiqih Guru MI Kelas IV
Buku SKI Guru MI Kelas IV




Tidak ada komentar:
Posting Komentar